Kamis, 18 Agustus 2011

Exotic Jogja 2

Jalan-jalan malam kedua ini terjadi pada tanggal 12 Agustus, masih di tahun 2009. Salah satu temanku Daniel di kunjungi oleh teman dekatnya Yoel, yang akan berangkat ke luar negri, jadi ia ingin memberikan kenangan indah selama di Jogja. Begitu juga dengan Inta, salah satu teman SMAnya juga berkunjung di Jogja. Sekitar pukul 11 malam kita berkumpul di depan kost Hari yang paling selatan, karena kampus kita berada di daerah utara kota Jogja. Tapi karena hari semakin malam dan belum semua berkumpul, bapak kost mulai uring-uringan. Insiden ini membuat kost Hari di pasangin jam malam, padahal biasanya bebas,hahaha…

Karena BT, kita menyingkir dan mengajak teman-teman lain untuk segera berangkat. Tengah malam kita sampai di tempat ngopi code yang sama seperti April lalu. Karena kali ini lebih terencana, kita membawa kartu dan kamera tentunya. Sambil menunggu pesanan, Daniel seperti biasa bermain sulap dengan kartunya. Beberapa di antara kita juga sedang mempelajari teknik-teknik mengambil gambar di malam hari.

Di tengah-tengah keasikan kita, datang seorang nenek dengan penampilan aneh. Awalnya kita berpikir dia seorang pengemis, maka kita beri uang. Tapi nenek itu malah ngobrol gak jelas, gak mau pergi-pergi. Waktu pesanan datang, kita beri dia semangkok mie. Setelah itu bahkan kita berfoto-foto dengannya. Jujur sampai sekarang aku masih bingung dengan maksud nenek itu.

Jam 1.30 dini hari kita berpindah ke titik keramaian berikutnya, “nol kilometer” yang berada di ujung jalan malioboro, utara alun-alun lor(Kraton Jogja). Setiap hari perempatan ini selalu ramai di kunjungi orang, terutama di malam hari seperti ini. Di sekitar perempatan terdapat banyak bangunan lama yang masih megah, yang disebut ‘Lodji’. Di bagian utara terdapat Gedung agung(Istana Kepresidenan), yang berhadapan dengan Benteng Vredeburg yang dibuka untuk umum pada siang hari, di pojoknya terdapat juga Monumen Serangan Umum 1 Maret. Sedangkan di bagian selatan digunakan untuk perkantoran seperti Kantor Pos Besar, Bank BNI, dan Bank Indonesia.

Yang menyenangkan di malam hari, hampir setiap sudutnya dihiasi lampu yang menggoda untuk berfoto ria (emang dasarnya kita ada narsis sih…).

Sambil berlatih menjadi model dan fotografernya, kita diiringi nyanyian seorang pengamen yang masih muda, kayaknya seumuran kita juga nih. Enak masnya bisa pakek request.

Setelah bosan kita bertolak ke tampat berikutnya, yaitu Tugu Jogja. Sekitar jam 3 dini hari ternyata masih ada yang foto-foto juga, jalanan juga sudah sepi, tapi tetap harus lihat kanan kiri kalau mau menyeberang.


Setengah jam berfoto-foto, hari semakin pagi, beberapa di antara kita sudah mengantuk, maka diputuskan untuk pulang.

Namun aku yang belum puas melanjutkan perjalanan ke alun-alun kidul berdua dengan pacarku waktu itu (baca:mantan). Karena sudah jam 4 dini hari, suasana di sini sangat sepi. Hanya ada tukang becak yang sedang tidur, serta dua pohon besar di tengah alun-alun.

Untungnya ada angkringan yang masih buka di sebelah selatan, lumayan buat menghangatkan tubuh. Setelah itu kita menuju ke selatan, tepatnya di Plengkung Gading. Tempat ini merupakan salah satu jalan masuk ke area “Njeron Beteng”, yaitu area kraton Jogja yang dikelilingi oleh benteng. Jika kita menaiki Plengkung Gading dan menelusuri jalanan di atas benteng ke arah wetan(timur) , kita akan sampai di salah satu pojok benteng(jokteng). Sayangnya karena pembangunan yang semakin padat, tidak semua bangunan jokteng masih ada. Padahal dari atas Jokteng, kita dapat mengamati lalu lintas di luar area kraton.

Sekitar jam 5 pagi, kita akhirnya pulang. Karena sudah pagi jadi bisa langsung pulang ke rumah, biasanya kalau kemalaman aku menginap di kost teman sekitar kampus.

Camera Model : Canon EOS 1000D & Canon EOS 450D

Thanks to : Daniel & Inno

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...